Month: May 2013

Testimoni: ‘Epic Java’ Film

 

Testimoni yang tertunda satu minggu ini membuat saya kembali harus mengingat-ingat apa yang terjadi pada Jumat minggu lalu (17 Mei 2013). Tapi hal itu bukanlah hal yang sulit, karena masih terekam jelas bagaimana haru dan bangganya saya melihat penantian teman-teman Embara Film (Febian, Galih, Arie, Denny) akan segera terealisasi, dan akhirnya kita bisa bersama-sama melihat ‘Epic Java’ Film secara full.

Epic Java, menyuguhkan rangkaian landskap-landskap Pulau Jawa yang proses pembuatannya berlangsung nyaris selama 1 tahun. Cukup sebentar bila dibandingkan dengan proses film Samsara yang memakan waktu sekitar 5tahun. Tentu tanpa bermaksud membandingkannya – diluar segala macam hal-hal teknis pembuatan filmnya, Epic Java ini dirasakan seperti “Samsara rasa Jawa”. Hehe.

Perbedaannya; Epic Java menghadirkan pesta visual dari tempat-tempat yang cenderung dekat dan familiar. Hal ini membuat tidak ada ‘jarak’ antara penonton dan yang terlihat di layar, tapi sekaligus menciptakan ilusi ‘jarak’ dan rasa asing atas tempat-tempat tersebut. Seolah membuka mata kita, dan membuat kita baru mengenal tanah air kita (dalam film ini tanah jawa).

Tentu Embara Film tidak bermaksud apa-apa, tanah Jawa yang mereka angkat sebaiknya kita anggap saja sebagai simbolisasi nasional Indonesia yang me-nusantara-kan pemikiran kita, sehingga tanpa kecuali film ini bisa dinikmati di seluruh nusantara (bahkan dunia).

Malam itu begitu meriah dalam suasana syahdu, tanpa sadar kita dibuat bermeditasi sejenak. Epic Java yang berdurasi sekitar 30menit dengan teknik timeleapse dan slowmotion, serta dengan aransemen audio yang jika saja output speaker-nya dibuat lebih jernih, akan membuat suasana semakin transedental.

5 menit pertama setelah lampu auditorium dimatikan, saya terharu biru melihat pengantar dari teman-teman Embara Film. 5 menit berikutnya saya terpana sekaligus mempertanyakan hal-hal teknis; seperti cara pengambilan gambar, peralatan, kamera, editing, skrip, pembuatan musik, dan hal-hal teknis lainnya. Muncul terus pertanyaan-pertanyaan (untungnya dalam hati sih, jadi ga ganggu orang, hahahh) seperti; “Ini gimana cara ambil gambarnya nih?! Sinting!”, “Eh buset, berapa lama ini ngambil gambarnya?”, atau “Yagh, textnya dingin amat?” kira-kira semacam itu lah. Dan 5menit kemudian hingga menit-menit berikutnya, saya berhenti berpikir dan memang dibuat menjadi tidak bisa berpikir apa-apa kecuali menikmati visual dan audio yang ada, dan berkontemplasi.

Kini setelah menonton Epic Java, perasaan saya tidak akan pernah sama lagi ketika nanti saya datang ke Borobudur, atau Garut, atau Pangandaran (dan lokasi lainnya). Menonton Epic Java seolah memakai kacamata baru untuk melihat tanah air kita. Mata dan telinga kita berpesta disuguhkan audio-visual yang megah, dan batin kita terisi perasaan gaib dan sakral akan keberadaan kita di tanah air ini. Proses kontemplasi merupakan highlight terpenting bagi setiap orang ketika melihat Epic Java.

Hingga pada menit-menit terakhir, tidak ada kata lain selain bangga. Saya bangga menjadi orang Indonesia, dan Epic Java menggerakkan saya untuk melakukan hal lebih lagi bagi tanah air kita; Indonesia.

Modal utama membuat Epic Java adalah sensibilitas tiap-tiap personilnya, sehingga persoalan dan kekurangan teknis menjadi tidak penting lagi (untuk tahap ini). Saya yakin teman-teman Embara Film bila difasilitasi dengan peralatan yang lebih canggih, waktu yang lebih lama, dan terutama budget yang cukup, serta kolaborator yang beragam, akan menghasilkan karya yang lebih epik lagi. Maka, untuk projek selanjutnya, saya bersedia membantu apapun yang tim Embara Film butuhkan dari saya.

Terakhir untuk teman-teman lain yang belum ada kesempatan melihat Epic Java, intip trailer mereka. Pantau jadwal mereka screening. Datanglah. Belilah tiket jika diperlukan. Pesan DVD kalau mereka produksi DVDnya. Undang mereka kalau kota kamu tidak ada di jadwal screening mereka.

Selamat berkontemplasi. 🙂

Penulis:

Maradita Sutantio, Seniman

Advertisements

Solo Project; EQUANIMITY

Solo Project; EQUANIMITY

EQUANIMITY:
Maradita Sutantio Solo Project
Curated by : Sally Texania
ART TALK
Saturday, JUNE 1 2013 | 3pm
OPENING
Saturday, JUNE 1 2013 | 5pm
Artsphere – Kemang Icon
Kemang Raya no : 1 Unit 2
Jakarta
 *
Maradita Sutantio (b.1984) developes her interest towards fiber art since her bachelor education in Textile Art Departement of  the ITB (Bandung, Indonesia) and since then her works mostly based on her interest toward thread’s potential in contemporary arts.
This solo exhibition aims to showcase maradita’s intimate and intensive experimentation of materials where she stitchs her thread on the ‘un-imaginable’ surfaces such as wood, alumunium and walls. These experimentation is an attempt of the artist to convey her philosophical approach towards human’s existence that continuosly adapt with society, ‘converting’ identity, and negotiate to find harmony. In this journey, time is not seems as a linear dimension where individual is racing towards it’s acceleration. Maradita captures time as a non-linear phase where human and the circumtances foster a stage of balance.
For further inquiries please contact Artsphere Gallery : (021) 7199719 or Sally Texania 087822117107